-->

Kisah Persahabatan Bagai Kepompong Teraneh Tidak Ada Duanya di Dunia

Sering membaca kisah unik? Rasanya belum lengkap jika anda belum membaca kisah persahabatan bagai kepompong teraneh tidak ada duanya di dunia ini.
Kisah Persahabatan Bagai Kepompong. Mungkin anda sekarang sedang kusut. Ingin membaca cerita atau kisah unik yang terjadi dalam hidup ini.

Artikel ini menyediakannya untuk anda. Sehingga setelah membacanya, anda akan bertambah wawasan.

Ternyata persahabatan itu bisa bermacam-macam pola dan tingkah lakunya. Penasaran? Yuk ikuti ceritanya.

Kisah Persahabatan Bagai Kepompong

Sebut saja namanya Deni (nama samaran). Dia berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur sana.

Profesinya adalah prajurit angkatan darat atau orang sering menyebutnya ABRI.

Kita saling kenal, karena dia ngekos bareng di tempat yang sama. Kamar kami saling berhadap-hadapan.

Dia ngekos dengan temannya sesama ABRI juga. Sedangkan saya tinggal sendiri.

Seperti umumnya kebanyakan penghuni kos-kosan. Hubungan kami tidak terlalu akrab. Hanya sebatas saling sapa dan ngobrol seperlunya.

Hingga suatu hari temannya dikirim ke Aceh. Membuat ia mengambil keputusan untuk keluar dari kosan dan tinggal di asrama tentara.

Kitapun berpisah.

Kisah persahabatan bagai kepompong teraneh dan unik

Namun beberapa waktu kemudian dia kembali lagi ke sini.

Ia menyewa kos-kosan yang ia tempati sebelumnya yang kebetulan masih kosong.

Kemudian mengajak saya untuk ngekos bareng bersama dia berdua.

Karena saya terbiasa hidup sendiri, namun ragu untuk memutuskan secara pasti saya bilang "iya".

Namun "iya"nya saya tidak dibarengi dengan memindahkan barang-barang ke kamar si Deni. Maklum masih setengah hati.

Melihat kelakuan saya ini, dia ngebujuk lagi dan minta barang-barang saya cepat dipindahkan.

Saya jawab "iya" kembali. Namun tetap, barang tidak saya pindahkan juga.

Hingga suatu waktu, ketika saya pulang ke kosan sehabis ada kegiatan, keadaan kamar kosong melompong.

Tidak ada barang-barang milik saya yang tertinggal di dalam. Apakah ini perampokan?

Saya mempunyai kebiasaan sering meninggalkan kamar tanpa dikunci. Baik untuk pergi dekat atau jauh.

Hanya jika keluar kota saja baru saya kunci kamar kontrakannya.

Semua orang yang mengenal saya tahu kebiasaan ini. Banyak yang heran tapi saya sih cuek saja.

Karena barang raib dari kos-kosan, saya coba check kamarnya si Deni.

Ternyata, semua barang-barang saya sudah dipindahkan oleh dia.

Saya senyum-senyum sendiri. Gokil juga nih orang, pikir saya.

Seperti tidak terjadi apa-apa, akhirnya kita resmi ngekos bareng berdua mulai saat itu.

Kisah Unik Hidup Bersama


Masing-masing dari kami punya keunikan. Dia mempunyai keunikan tersendiri, saya juga.

Cerita uniknya adalah sebagai berikut.

1. Jarang Ngobrol.

Biasanya jika satu kos-kosan orang akan saling bercerita tentang berbagai hal. Kita tidak.

Pulang kerja, makan, nonton televisi dan tidur. Itu adalah rutinitas kita setiap harinya.

Jika nonton televisi bareng, ya sudah nonton saja. Tidak ngebahas masalah apapun.

"Pindahin"

Biasanya saya yang sering ngomong itu. Karena yang pegang remote pasti dia.

Kebetulan yang punya televisi memang dia. Ya sudah saya ngalah, tidak merasa memiliki.

Nanti dia bakal pindahin channelnya. Kalau, tidak saya pasti ngomel.

Kalau misalnya dia lagi malas dan tidak megang remote, dia gantian yang nyuruh mindahin.

Maka jari kaki saya yang bermain untuk mindahin channel.

Hal itu terjadi karena televisi diletakkan di bawah dan meja penyangga hanya beberapa centimeter dari lantai.

Sedangkan ukuran kamar lumayan sempit. Yang pernah atau hidup ngekos di Jakarta, pasti faham hal ini.

Jadi, sambil tiduran, kaki bisa menjangkau televisi dengan mudah.

Kisah persahabatan yang menginspirasi.

2. Beda Selera Tontonan.

Dia suka sepakbola Indonesia, saya tidak suka. Saya senang balap motor, dia tidak.

Dua selera yang berbeda ini justru menimbulkan banyak kekisruhan diantara kita.

Hal ini terjadi jika, dua acara itu tayang bersamaan. Saya ingin nonton Motogp, dia ingin bola.

Apa yang terjadi? Kami rebutan remote!

Jika kebetulan si Deni yang duluan megang remote dan tidak mau mindahin channel maka kaki saya yang bermain.

Kaki kiri saya gunakan untuk menutup sensor, yang kanan untuk mindahin saluran.

Nanti dia akan ngomel, namun saya tidak perduli. Walau ujung-ujungnya saya ngalah.

Ngasih kesempatan dia nonton bola sebentar, nanti saya pindahin lagi.

Begitu pula si Deni, dia mau sesekali mindahin chanel agar saya bisa melihat Motogp.

Terkadang ketika saya lagi jahil dan kebetulan si Deni tidak ada, saya kunci kamarnya.

Pas dia datang, saya tidak bukakan pintu. Nanti dia bakal ngomel-ngomel gak jelas dan minta masuk.

Untuk beberapa saat saya biarin. Setelah dirasa cukup ngerjain, saya bukakan pintunya.

Kasihan anak orang, rumahnya kan cuma di sini doang. Bareng sama saya.

Tetapi setelah keadaan dan posisi sudah normal kembali. Si Deni dengan remotenya, saya dengan kakinya. Acara berantem dimulai lagi.

Kisah persahabatan yang aneh.

3. Dia di Kasur Saya di Lantai.

Keadaan kamar kami hanya terdiri dari satu kasur, dua lemari dan satu televisi.

Lantai kos-kosan terbuat dari kayu dan dilapisi oleh karpet. Kasur hanya muat untuk satu orang.

Semenjak kami tinggal bareng, si Deni selalu memonopoli kasur ini.

Saya selalu mengalah, tidur di bawah. Tidak apa-apa. Sudah biasa hidup tidak nyaman.

Selain kasur yang dia kuasai, bantalpun dia monopoli. Dua bantal dia pakai sendiri.

Memang kampret dia. Tapi tak apalah, yang penting dia senang.

Tapi tak selamanya saya ngalah. Sesekali saya juga ingin merasakan tidur di kasur.

Disinilah Kekisruhan dimulai.

Supaya bisa tidur di kasur, butuh perjuangan bagi saya. Ngomel-ngomel dan minta dia tidur di bawah sambil maksa.
Kalau tidak mau turun dari kasur, saya seret dia ke bawah. Akhirnya, sayapun tidur nyaman di kasur.

Namun ketika pagi datang, saya mendapati keadaan saya tidur di lantai dan si Deni tidur di kasur.

Aseem. Ternyata sewaktu tidur, gantian dia yang nyeret saya ke bawah. Biadab sekali dia.

Sudah gituh, bantal dia pakai semua!

Sayapun ngomel panjang kali lebar. Dia hanya cengengesan gak jelas.

Persahabatan yang hancur!!

4. Dia Pelit, Saya Sengkelit.

Ada satu kebiasaan lain dari si Deni yang kadang membuat kesal.
Jika dia beli makanan, pasti dibawa dan dimakan di kontrakan.

Nawarin? Boro-boro. Dia mah damai saja dengan makanannya. Saya cuma bisa ngiler doang.

Ini terjadi hampir setiap hari. Dia makan, saya nonton. Semprul.

Si Deni pelit?

Gak tahu juga. Karena kita sama-sama punya duit. Jadi kalau saya mau ya tinggal beli.

Istilah yang tepat untuk sifat dia mungkin "hemat".

Hal ini terlihat ketika suatu waktu dia beli motor. Saya ikut senang, karena pasti bisa ikut make.

Waktu nyobain pertama saja dia ikhlas ngasih kunci. Selebihnya dia tidak pernah ngasih minjem.

Namun saya juga tidak mau kalah. Terus saya paksa. Cara itu selalu berhasil dengan catatan.

"Isi bensin" ini yang selalu dia bilang. Sayapun mengiakan.

Apakah saya isi bensinnya? Kadang-kadang saja. "Biar dia maki-maki, masa sama teman perhitungan. Coba kalau tidak susah minjemnya, mungkin akan lain ceritanya. Pasti saya isiin bensin," pikir saya.

Jika sedang iseng, sesekali saya curi kuncinya. Make motor, tapi tidak bilang sama dia.

Hasilnya, dia ngomel-ngomel panjang lebar. Aku sih oke. Gak ada satupun yang masuk telinga omelannya.

Nah ini baru namanya persahabatan yang mengharukan.

5. Dia Apik, Saya Berantakan.

Jika kebetulan recehan uang di kantong celana terjatuh di kasur, biasanya saya cuekin.

Hal itu terjadi jika tanggal muda. Biasa, abis gajihan sedikit sombong.

Uang koin tergeletak begitu saja. Dan saya tidak tahu berapa jumlah uang yang tercecer.

Suatu waktu ketika ingin beli rok0k, saya cari-cari recehan di samping kasur. Ternyata tidak ada.

Di bawah nyari tidak ada, giliran nyari di atas. Benar saja, di sana uang koin itu sudah tersusun rapih.

Saya ketawa sendiri. Teman saya ini memang apik. Duit temenpun ditata rapih.

Bukan hanya uang, baju yang saya berantakin di kasur. Biasanya si Deni pula yang masukin ke lemari.

Walau dia sering ngomel, saya cuekin. Hasilnya dia yang nyerah, beresin sendiri baju punya saya.

Lumayan punya pembantu!

6. Pertanyaan Aneh

Si Deni ini jika hari libur kerja tiba terkadang suka ngajak saya jalan-jalan.

Walau saya sedikit malas nanggepinnya namun ajakan dia selalu saya jawab dengan baik.

Kenapa males nanggepinnya?

Simak obrolannya.

"Gembel kita jalan-jalan yuk," ajak dia.

"Hayo," jawab saya.

"Kemana kita?" tanyanya.

"Lah elu yang ngajak, malah balik nanya," jawab saya sewot.

Dan jika saya tidak punya ide, maka batallah rencana jalan-jalan itu.

Ada lagi contoh obrolan anehnya.

"Bel, kita maen yuk," ucap dia.

"Hayu. Kemana?" jawab saya.

"Ke JHCC," sahutnya.

"Oke," balas saya.

"Ngapain kita ke sana?" tanyanya dengan tidak merasa bersalah.

Hellooow... yang ngajak siapa, yang repot mikir siapa.

Saya sering sewot dengan kebiasaannya ini tapi dia malah cengar cengir gak jelas.

Solusinya, jika dia ngajak jalan-jalan. Saya iyain dan kasih tahu tujuannya.

Jika dia bertanya "ngapain kita ke sana?"

Saya bilang, "Berisik luh. Mau jalan nggak."

Biasanya cara ini selalu manjur. Dan acara jalan-jalannya pun jadi.

Persahabatan yang unik.

7. Tragedi Telepon.

Suatu waktu telepon si Deni ketinggalan di lemari. Dia entah ada di mana.

Ternyata yang telepon adalah atasannya dan minta dijemput di bandara.

Saya bilang orangnya tidak ada. Dan kami ngobrol-ngobrol sedikit. Beres.

Besoknya saya disemprot oleh si Deni. Katanya kenapa bilang begini dan begitu.

Ternyata baru ketahuan, kalau dia ada sedikit bohong ketika ngomong tentang alasan dia ngekos ke bosnya.

Saya tertawa geli, "ya salah elu, kenapa gak bilang-bilang".

Beberapa hari kemudian dia ngomel lagi tentang masalah ini. Mungkin habis dihukum, pelampiasannya ke saya.

Karena merasa tidak bersalah, saya hanya nyengir. Stess nih temen gue, pikir saya.

Ini nih akibatnya kalo ngekos bareng tapi jarang ngobrol. Kualat.

Persahabatan yang menginspirasi.

8. Akhirnya Ngobrol.

Saya senang main bilyard jika malam minggu tiba. Si Deni tidak pernah mau jika diajak.

Maka tidak heran, jika pulang dari tempat main bola sodok itu dia sudah tidur keadaannya.

Namun waktu itu saya mendapati dia belum tidur. Ada yang salah nih, pikir saya.

Akhirnya saya tanya, kira-kira begini obrolannya.

"Tumben lo belum tidur. Biasa jam segini dah molor. Pasti lu punya masalah yah?"

"Tidak," jawabnya.

"Sudah jangan bohong, gue tahu kebiasaan lo. Jam segini pasti sudah molor. Ayo cerita," desak saya.

Akhirnya dia cerita. Permasalahannya adalah bahwa dia akan melamar pacarnya.

Setelah itu akan langsung menikahinya dan membawa serta isterinya pindah tugas ke kampung halamannya.

Tapi, si orang tua ceweknya kurang setuju jika anaknya dibawa ke Kalimantan.

Diapun meminta saran dari saya.

Sebagai teman yang baik tentu saya memberi saran dan solusi terbaik untuk permasalahannya.

Kebetulan dia menerima saran dari saya. Kemudian dia bisa tidur nyenyak.

Berapa lama kita ngekos, hanya itu obrolan serius yang kami lakukan.

Persahabatan yang super aneh!

9. Dia Kawin Tapi Tidak Ngajak.

Si Deni ini memang unik. Mau nikah tapi tidak bilang-bilang. Adem saja.

Tahu dia bakal menikah ketika temannya datang.

Waktu itu sehabis pulang dari bilyar saya menemukan mereka sedang ngobrol.

Nah temennya ini nanya ke saya "Lo bakal hadir di nikahan si Deni. Masa temen tidak datang?"

Saya yang kaget dengan berita ini untuk sesaat terbengong-bengong.

"Dia mah tidak akan mau datang," ucap si Deni.

Dia seperti tidak masalah kalau saya nggak datang menghadiri perkawinannya. Bahkan sedikitpun tidak maksa!

Mungkin si Deni mikir, saya pasti ngantuk esoknya karena habis main bilyar. Dianya kasihan.

Memang waktu saya pulang, waktu sudah lewat tengah malam. Kira-kira jam dua subuh.

Akhir cerita, saya datang menghadiri pernikahannya walau mata ini sedikit ngantuk.

Kampret, umpat saya di hati. Coba kalau bilang jauh-jauh hari dan ngobrol tentang rencana nikah. Pasti saya tidak akan main bilyar waktu itu.

Persahabatan yang benar-benar ajaib.

Itulah cerita unik tentang persahabatan kami. Sebetulnya masih banyak kisahnya, namun saya rasa cukup 9 saja.

Itupun sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kisah persahabatan aneh kami ini.

Cerita ini kita tutup dengan lirik dan kunci/chord gitar lagu dari Sindencosta yang berjudul Kepompong.


Intro : A D Bm E

A
Dulu kita sahabat
D
dengan begitu hangat
Bm E
mengalahkan sinar mentari


A
Dulu kita sahabat
D
berteman bagai ulat
Bm E
berharap jadi kupu-kupu

Bridge :
Bm D A
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Bm D A
kau jauhi diriku karena sesuatu
Bm D A
mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Bm E
namun itu karena ku sayang

Reff :
A D
Persahabatan bagai kepompong
Bm E
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
A D
persahabatan bagai kepompong
Bm E
hal yang tak mudah berubah jadi indah

A D
Persahabatan bagai kepompong
Bm E
maklumi teman hadapi perbedaan
A D
persahabatan bagai kepompong
Bm E
na na na na na..

Int : A D Bm E

A
Semua yang berlalu
D
biarkanlah berlalu
Bm E
seperti hangatnya mentari

A
Siang berganti malam
D
sembunyikan sinarnya
Bm E
hingga dia bersinar lagi


Kembali ke Bridge dan Reff

Baca juga: Kisah Inspirasi Singkat Terbaik Motivasi Hidup.

Demikian Kisah Persahabatan Bagai Kepompong Teraneh Tidak Ada Duanya di Dunia ini saya hadirkan untuk anda para pembaca. Semoga terhibur. Salam.
LihatTutupKomentar