-->

Cerita Horor Ambulance Bandung

Kisah horor Ambulance Bandung yang berkeliling tanpa awak, meninggalkan jejak misteri di jalanan malam kota. Berani baca sampai akhir?

Cerita Horor Ambulance Bandung

Sirene meraung di tengah reruntuhan. Malam itu, hujan deras mengguyur pinggiran Lembang, membasahi jalan penuh lumpur dan puing. 

Sebuah ambulans berhenti di depan bekas gedung sekolah yang hancur separuh — lokasi longsor tiga hari lalu.

Reza menatap ke luar jendela, matanya lelah. “Katanya udah gak ada korban tersisa, kan?”

Santi, paramedis muda di sebelahnya, menatap layar radio. Sinyalnya lemah, tapi suara dari pusat tadi jelas memerintahkan mereka ke sini.

“Unit 6-2, segera ke lokasi longsor Lembang Timur. Satu korban terdeteksi masih hidup.”

Padahal… pencarian resmi sudah ditutup kemarin.

Cerita Horor Ambulance Bandung


Mereka keluar. Lumpur lengket di sepatu. Bau tanah basah bercampur besi berkarat menusuk hidung. Di kejauhan, hanya ada sisa tenda tim SAR yang sobek diterpa angin.

“Siapa yang kirim panggilan itu?” gumam Reza. Santi menatap radio yang kini mati total. “Mungkin sinyal nyasar. Tapi… lokasi ini masih ngirim koordinat aktif.”

Mereka berjalan menuju bangunan yang tinggal separuh berdiri. Tulisan SD Negeri 3 Lembang Timur masih terlihat di dinding yang retak. 

Dari dalam, terdengar suara ketukan pelan — seperti seseorang menumbuk logam dari bawah tanah.


“Denger gak?” bisik Santi.

Reza mengangguk. Mereka menggali di dekat ruang kelas yang ambruk. Lumpur makin dalam, tapi suara itu semakin jelas: tok… tok… tok. Lalu berhenti.

“HELLO! Ada yang masih di bawah?” teriak Reza.

Tak ada jawaban. Tapi dari bawah tanah terdengar lirih suara perempuan:

“Tolong… aku masih di sini…”

Mereka mempercepat galiannya. Setelah beberapa menit, sekeping papan kayu terbuka, menampakkan ruang sempit — ruang bawah tanah sekolah yang selama ini tidak ada di peta bangunan.

“Gue turun duluan,” kata Reza.

Tangga darurat tua berderit saat ia menuruni lorong itu. Bau lembab dan tanah busuk menyambut. Lampu senter menyapu dinding penuh coretan nama anak-anak. Di ujung ruangan, terlihat kursi lipat dan meja medis berdebu.

“Ini apa… ruang kesehatan?” tanya Reza pelan.

Namun di salah satu meja, ada radio medis portable. Model lama, rusak, kabelnya putus.

Santi turun menyusul. “Rif, ini aneh. Panggilan tadi gak mungkin dari sini.”

Radio itu tiba-tiba menyala sendiri — padahal tanpa sumber daya. Suara serak muncul, retak seperti dari dalam tanah:

“Unit 6-2… pasien menunggu… dia masih hidup…”


Di pojok ruangan, ada tandu besi. Bersih. Terbungkus kain putih.

Santi menatapnya. “Lo yakin mau buka?”

Reza menarik napas, lalu perlahan membuka kain itu.

Tubuh seorang perempuan muda terbaring kaku, wajahnya pucat, seragam paramedisnya robek penuh lumpur. Lencana di dadanya bertuliskan:
S. Lestari — Unit 6-2

Santi mundur. “Itu… itu nama gue.”

Lampu senter mereka berkedip. Radio berbunyi lagi — kali ini dengan suara yang lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja tersenyum:

“Terima kasih sudah datang, Reza. Sekarang kita bisa pulang.”

Suara langkah mulai terdengar dari lorong — banyak, berat, serempak. Reza menyorot ke arah atas, dan melihat siluet-siluet berpakaian oranye—tim SAR yang seharusnya sudah pergi—turun perlahan, wajah mereka tertutup lumpur, mata mereka kosong.

“Lari!” teriak Reza.

Tapi tangga di belakang sudah runtuh. Lorong menutup. Lampu padam. Hanya suara napas berat, radio yang berbisik, dan detak jantung yang entah dari siapa.

“Unit 6-2, laporan terakhir… dua korban ditemukan… tidak ada yang selamat.”


Kisah horor lainnya: Cerita Seram Tukang Ojek Menakutkan Tapi Lucu

Di kota yang tampak biasa setelah lampu-lampu kafe padam, sirene kadang membawa lebih dari sekadar panggilan darurat. 

Sebagian memilih percaya, sebagian lainnya menutup telinga. Tapi kalau suatu malam kau mendengar denting tandu bergeser pelan di jalan yang kosong, biarkan saja ia lewat. 

Bandung punya caranya sendiri menjaga rahasia; beberapa di antaranya masih berkeliaran di balik gedung rumah sakit tua yang tak pernah benar-benar tidur. 🚑🌫️

#AmbulanceBandung, #UrbanLegendBandung, #KisahHoror, #CeritaMalam, #KisahMistis, #HororIndonesia, #CeritaSeram

LihatTutupKomentar